Home | Produk | Daftar Distributor Daerah | Hubungi

Peluang Usaha

Dicari distributor atau agen untuk memasarkan produk Bandrek dan Bajigur diseluruh wilayah Indonesia

Jadilah yang pertama memasarkan di daerah anda

 

Sekilas Info

  1. Manfaat Jahe bagi kesehatan...

  2. Manfaat Lada bagi kesehatan...

  3. Manfaat Cengkeh bagi kesehatan...

  4. Manfaat Pala bagi kesehatan...

  5. Manfaat Kayu Manis bagi kesehatan...

  6. Manfaat cabe Jawa bagi kesehatan...

 

Tanaman Herbal

Adas

Anggur Merah

Asam Jawa

Bawang Bombay

Bawang Putih

Beluntas

Bengkoang

Boroco

Brotowali

Buncis

Bunga Matahari

Bunga Teratai

Coklat

Daun Dewa

Daun Sirih

Gandarusa

Inggu

Jambu Monyet

Jayanti

Jintan Putih

Kacang Tanah

Kapulaga

Kecubung

Kencur

Kunyit

Lidah Buaya

Mengkudu

Pinang

Putri Malu

Sengugu

Taoge

Tapak Dara

Tapak Kuda

Tapak Leman

Temu Lawak

 

                                              

                                                   Kacang Tanah (Arachis hypogea)  

Kacang Tanah Baik buat Jantung, Hambat Bakteri Tb

Kacang tanah (Arachis hypogea) selama ini sering dianggap penyebab jerawat. Anggapan itu tidak semuanya benar, karena tanaman ini mengandung zat gizi tinggi.

Kacang tanah berasal dari Brazil dan ditanam oleh bangsa Indian. Ketika Benua Amerika ditemukan, tradisi menanam kacang telah ada. Kacang tanah pun menyebar ke berbagai tempat karena dibawa oleh kaum pendatang termasuk Indonesia.

Di Indonesia, kacang tanah mulai dikenal sekitar 1521-1529 oleh pedagang Spanyol melalui Maluku. Mengapa orang dari abad ke abad melestarikan jenis tanaman tersebut? Karena kandungan di dalam kacang bisa mencegah penyakit.

Peneliti Dr Frank Hu dari Harvard School of Public Health, dalam penelitiannya terhadap 86.000 wanita yang sering mengonsumsi kacang menunjukkan, kacang-kacangan, termasuk kacang tanah mampu menjaga aktivitas pemompaan jantung dengan teratur.

Para ahli dari Penn State University juga melakukan sebuah penelitian ilmiah berupa 11 kali penelitian klinis dan lima kali penelitian epidemiologi. Dari hasil penelitian tersebut, menurut dr Penny Kris-Etherton, salah satu peneliti sekaligus guru besar di bidang nutrisi universitas tersebut, semakin sering seseorang mengonsumsi kacang, maka risiko terkena penyakit jantung koroner semakin berkurang.

Etherton menyebutkan, mengonsumsi satu ons kacang lebih dari lima kali seminggu bisa menurunkan risiko penyakit jantung koroner sampai 25-39%.

Dalam penelitian tersebut tidak hanya kacang tanah yang diteliti, melainkan almond, brazil nut, cashew, hazelnut, macadamia, pistachio, dan walnut. Cuma, disebutkan konsumsi kacang tanah hampir mencapai 50% dari keseluruhan konsumsi. Prof Gary Fraser PhD, dari Bagian Obat-obatan dan Epidemiologi di Loma Linda University berdasarkan penelitiannya menyimpulkan, mengonsumsi kacang seminggu sekali mengurangi risiko penyakit jantung 25% lebih rendah dibandingkan tidak makan sama sekali.

Penelitian terkini dilakukan oleh ilmuwan Swedia dr Thomas Schoen dan timnya dari Universitas Linkoeping Swedia. Schoen bersama timnya berhasil mengidentifikasi bahwa kacang tidak hanya sebagai makanan ringan, tetapi berkhasiat melawan kuman tuberkolusis (Tb). Sebab, dalam butiran kacang terkandung zat arginine, zat yang dapat merangsang tubuh untuk memproduksi oksida nitrat, yaitu zat yang dapat menghambat bakteri Tb.

Arginine tersebut termasuk dalam kelompok asam amino yang bermanfaat untuk membunuh bakteri penyebab Tb. Penelitian telah dilakukan Schoen bersama timnya terhadap 120 pasien Tb di Ethiopia. Pasien yang diberi arginine dosis 1 gram atau setara dengan 30 gram kacang tanah setiap harinya, menunjukkan dampak positif bagi pasien Tb. Berat badan mereka bertambah dan frekuensi batuknya menurun. Selain dapat menekan bakteri Tb, arginine.

Ketua Gerdunas (Gerakan Terpadu Nasional) Tuberkolusis dr Tjandra Yoga Aditama SpP menilai penelitian Schoen itu cukup menarik. Terlebih kacang jauh lebih mudah dijangkau masyarakat dibandingkan obat-obatan Tb.

"Tetapi karena ini baru dari satu penelitian, belum bisa dipakai sebagai dasar ilmiah yang akurat. Perlu penelitian lebih lanjut agar memenuhi kaidah evidence based medicine," kata Tjandra.

Di Indonesia maupun di negara mana pun di seluruh dunia, pengobatan Tb berupa rifampicin, INH, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin. Lama pengobatan pun selama 6 bulan dengan rincian 2 bulan pertama 3-5 obat kemudian 4 bulan berikutnya dua obat saja.

 

Sumber : dari berbagai sumber

 

Copyright © 2008 CV. Jamitra Inkaru Group. All rights reserved.